Nasabah KPR Makin Tercekik

Posted on Updated on

INILAH.COM, Jakarta – Nasabah kredit kepemilikan rumah (KPR) atau apartemen mulai mengeluh. Bunga kredit KPR terus naik dan mencekik nasabah, dengan bunga yang mencapai 16%. Padahal, biaya dana saat ini yang tercermin dari bunga deposito paling tinggi 10%.
Jika kecenderungan ini terus terjadi, dan kemungkinan besar akan seperti itu, maka nasabah akan kesulitan membayar. Sejak empat bulan terakhir ini, suku bunga KPR naik setiap bulan, dan saat ini telah mencapai 15%, bahkan sebagian bank sudah mematok bunga 16%. Tidak jelas apa alasan bank-bank itu menaikkan bunga setiap bulan.
“Setiap bulan saya mendapat pemberitahuan kalau bunga KPR saya naik,” ujar seorang nasabah. “Saya tidak mengerti kenapa terus naik. Saya bisa menunggak kalau bulan depan naik lagi.”
Nasabah lain mengatakan ia terpaksa melakukan penghematan ekstra ketat untuk bisa membayar bunga KPR. Ia mengaku takut sekali menunggak, karena bank-bank memperlakukan nasabah kecil secara tidak adil. “Kalau nasabah kecil menunggak langsung disita rumahnya, tapi kalau nasabah besar dilakukan restrukturisasi kredit. Adil nggak?”
Memang mengherankan kenapa suku bunga KPR terus bergerak naik, di saat bunga deposito rata-rata 10% saat ini. Bukan itu saja. Bunga rujukan Bank Indonesia juga sudah turun dan kemungkinan akan terus turun di masa-masa mendatang, sesui dengan kecenderungan global.
Bahkan, jika mau mengambil contoh Amerika, bunga rujukan di sana antara nol persen hingga 0,25%, luar biasa rendahnya. Begitu kecilnya bunga di Amerika itu sampai-sampai melahirkan joke: kejarlah kredit hingga ke Amerika. China dan Jepang juga melakukan hal serupa. Negara-negara lain pun berlomba menurunkan bunga agar kredit bisa disalurkan.
Kesimpulannya, semua negara bertidnak serupa untuk melonggarkan likuiditas. Tapi di Indonesia yang terjadi justru sebaliknya, likuiditas ketat. Bank-bank saling mengamankan dirinya dan tidak bersedia memberikan kredit antarbank.
Tingginya bunga kredit jauh di atas biaya dana mencerminkan buruknya efisiensi perbankan nasional. Spread antara bunga deposito dengan bunga kredit yang begitu lebar juga mengindikasikan satu hal, yakni perbankan masih mengandalkan pendapatannya dari bunga, bukan dari fee based income.
Industri perbankan nasional memang belum sepenuhnya memiliki struktur yang kuat, terbukti dengan diambilalihnya satu bank nasional oleh Lembaga Penjaminan Simpanan. Himbauan BI agar perbankan kecil melakukan merger sehingga memiliki permodalan yang kuat terbentur gengsi pemilik dan sulitnya menyatukan budaya dua perusahaan.
Hingga saat ini tidak ada bank yang bergabung demi mencapai kecukupan modal yang disarankan bank sentral. Kalau pun ada, itu karena pemiliknya memang satu atau memiliki keterkaitan bisnis satu sama lain, seperti merger Bank Niaga dengan Bank Lippo. [E1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s