Regulasi Belum Lindungi Konsumen Properti

Posted on

Jakarta – Konsumen properti belum terlindungi dari kenakalan pengembang, notaris, broker properti maupun fluktuasi suku bunga Kredit perumahan akibat lemahnya regulasi di sektor properti.

NERACA

Menurut pakar hukum properti, Erwin Kallo, pemerintah belum memperhatikan upaya proteksi bagikonsumen properti. Padahal, industri properti memberikan kontribusi yang signifikan. Namun, fakta di lapangan memperlihatkan tidak adanya kepedulian pemeirntah sehingga memicu friksi di antara pemangku kepentingan di industri tersebut.

“Pemerintah seharusnya aware terhadap konsumen properti karena industri ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan,” tegasnya dalam diskusi Forum Wartawan Perumahan Rakyat bertema “Perlindungan Hak Konsumen Atas Hunian, Anta-raTeori dan Realita” di Jakarta, Senin (6/9).

Sebagai gambaran, imbuh Erwin, belanja iklan properti menempati urutan kedua terbanyak setelah industri rokok karena biayanya lima persen dari total proyek. Belum lagi efek domino karena pergerakan industri properti mampu menyerap tenaga kerja yang besar.

Erwin menyebut, lemahnya perlindungan hukum terkait hak-hak konsumen properti. Padahal, konsumen merupakan urat nadi yang mendorong pertumbuhan industri properti sehingga perlu ditempatkan dalam posisi yang strategis. “Jika konsumen drop maka industri properti akan macet. Apalagi, sekarang ini properti bukan lagidipandang sebagai kebutuhan dasar tapi sudah menjadi industri. Bahkan sudah dipandang sebagai suatu obyek investasi dan obyek spekulasi,” paparnya. Dia menambahkan, ketiadaan perlindungan terhadap konsumen properti menimbulkan free fight competition di antara konsumen properti ketika dihadapkan pada persoalan pengembang yang nakal. “Pemerintah tidak melihat upaya perlindungan terhadap konsumen properti sebagai suatu hal yang penting,” tukasnya.

Sertifikasi Layak Jual

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI), Teguh Satria mengungkap, sertifikasi standar legalitas layak jual (SSLLJ) yang diterbitkan Badan Sertifikasi asosiasi profesi ini belum efektif dalam menyelesaikan sengketa antara konsumen versus pengembang. Pasalnya, po-la sertifikasi ini belum sepenuhnya berjalan.

“Sertifikasi ini masih menyangkut aspek legalitas saja, jadi belum menyentuh persoalan kualitas produk. Namun, kami berkeyakinan dengan adanya standardisasi legalitas hukum maka 50% persoalan di industri properti sudah bisa diatasi. Misalnya, persoalan pertanahan, perizinan, dan lain-lain* paparnya.

Dia menjelaskan, saat ini baru ada dua proyek properti yang sudah mengantongi SSLLJ. Keduanya berlokasi di Kalimantan Selatan dan Sumatera Utara. “Tapi saya tidak hapal apa nama proyeknya,” ujarnya. Selain Badan Sertifikasi, lanjut Teguh, pihaknya juga sudah membentuk Advokasi Anggota, serta Badan Kehormatan (BK) yang menjadi dewan kode etik di internal organisasi profesi ini. “BK ini yang menangani pemberian sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh para pe-ngembang anggota REI. Sanksi yang diberikan mulai dari yang paling ringan yakni teguran lisan dan tertulis, hingga yang paling berat yakni pemecatan dari keanggotaan di organisasi,” katanya.

Bagi pengembang yang diberhentikan keanggotaannya, akan menerima konsekuensi yang sangat berat. Tidak hanya pemecatan status keanggotaan di organisasi, tapi keputusan pemecatan itu pun akan diinformasikan kepada Bank Indonesia serta seluruh perbankan di Indonesia. “Jadi pemecatan ini bukan keputusan yang main-main. Kita akan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan yang ekstrim ini karena namanama pengurus di perusahaan yang diberhentikan dari keanggotaan di REI bakal tidak bisa berusaha lagi di Indonesia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s