REI Desak KPR Berlanjut

Posted on

Jakarta – Surya-Perbankan di dalam negeri saat ini cenderung lebih selektif dalam memberikan kredit, utamanya untuk sektor perumahan dan kendaraan. Karena itu, Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) mendesak kepada Bank Indonesia (BI) agar perbankan tetap mengalokasikan kreditnya bagi Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen (KPR/KPA).

“KPR/KPA sangat dibutuhkan untuk menggerakkan sektor properti yang selama ini terbukti memberikan multiplier effect terhadap ekonomi karena membuka peluang kerja sangat besar,” kata Teguh Satria, Ketua Umum DPP REI, di sela kegiatan temu anggota REI, di Jakarta, Kamis (20/11),.

Teguh mengatakan, bagi masyarakat yang akan membeli unit properti dengan harga sampai dengan Rp 500 juta ke bawah akan sangat membutuhkan fasilitas KPR/ KPA, sehingga apabila dibatasi maka akan memukul sektor ini. “Sebaliknya, dengan unit properti yang dipasarkan mulai Rp 1 miliar ke atas tidak ada persoalan, mengingat pembayarannya menggunakan tunai bertahap,” ungkapnya.

Teguh memperkirakan, KPR/KPA yang disalurkan saat ini turun sekitar 40 sampai 50 persen, karena perbankan melakukan pembatasan dengan alasan bermacam-macam, baik langsung maupun tidak langsung. “Pembatasan dilakukan berbagai cara, mulai menaikkan tingkat bunga KPR/KPA, menaikkan uang muka dari semula 10 persen menjadi 30 persen, bahkan ada yang terang-terangan tidak menerima KPR/ KPA lagi,” ujarnya.

Ia mengusulkan kepada perbankan agar memanfaatkan dana-dana murah di daerah yang selama ini belum termanfaatkan, yang jumlahnya mencapai Rp 20 triliun. “Sudah saatnya juga mengubah persepsi mengenai kredit properti sebagai sektor konsumtif, sebab melihat manfaatnya sebenarnya merupakan sektor produktif,” ujarnya.
Terkait tingginya bunga KPR/KPA, menurutnya, hal itu disebabkan permintaan tinggi sementara dana yang tersedia terbatas. “Mungkin dengan bunga 14 persen tetapi tetap akan bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan, ketimbang 17 sampai 18 persen,” ujar dia.
Seretnya penyaluran KPR turut dirasakan para pengembang di Jatim. Novri Susanti, Direktur Utama PT Graha Mukti Indah, pengembang perumahan di Sidoarjo mengungkapkan, bank tetap menyalurkan KPR tetapi sangat selektif memilih nasabah. Bank lebih memperioritaskan menghimpun dana masyarakat daripada menyalurkan kredit, apalagi pada sektor konsumsi.
“Sebelumnya dengan uang muka 10 persen KPR bisa dicairkan, sekarang harus 30 persen. Selain itu syarat-syarat kelayakan jaminan juga diperketat,” kata Novri. ant/ytz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s