Bunga KPR Mencekik Nasabah

Posted on

Dalam dua bulan terakhir, suku bunga kredit pemilikan rumah sudah naik 3-5 persen poin menjadi 14-16 persen per tahun. Banyak calon nasabah yang tadinya berharap bisa mencicil KPR dengan bunga murah harus kecewa dan terpaksa menunda. Tingginya biaya dana dan ketatnya likuiditas merupakan sejumlah faktor pendongkrak naiknya bunga KPR.

Enam bulan lalu, bank-bank besar, seperti Bank Mandiri, BCA, BNI, bahkan BTN, masih menawarkan bunga KPR di bawah 10 persen per tahun. Namun, sekarang, untuk nasabah baru, Mandiri sudah mematok bunga rata-rata 14 persen per tahun.

Tak jauh berbeda, BCA menawarkan bunga KPR 15 persen dan BNI berkisar 14,5-16 persen. Adapun BTN, yang merupakan bank fokus perumahan, menaikkan bunga KPR menjadi 15 persen per tahun baik untuk nasabah baru maupun nasabah lama.

Ini berarti rata-rata ada selisih sekitar 5 persen poin dibandingkan dengan bunga KPR pada tiga sampai enam bulan lalu. Secara nominal, bedanya cukup signifikan. Sebagai ilustrasi, untuk pinjaman Rp 200 juta dengan bunga 10 persen, nasabah membayar bunga sebesar Rp 20 juta selama setahun. Jika bunganya 15 persen, nasabah harus membayar bunga sebesar Rp 30 juta per tahun.

Teguh (33), pekerja swasta di Jakarta, tak bisa membayangkan bagaimana ia harus membayar bunga yang begitu tinggi.

Pada akhir September 2008, ia mendatangi kantor BTN dan mendapat informasi bunga KPR saat itu sebesar 10 persen. Ternyata, saat ia memasukkan berkas permohonan KPR pada Oktober 2008, bunga untuk nasabah baru sudah naik menjadi 12,75 persen.

Bunga berlaku efektif setelah ada akad kredit antara nasabah dan bank. Namun, Teguh belum bisa melakukan akad kredit sebelum rumah selesai dibangun, yang diperkirakan Januari 2009.

Nahas baginya, pada awal November, BTN kembali menaikkan bunga KPR menjadi 15 persen. Ia tak bisa begitu saja membatalkan pembelian rumah karena telah membayar uang muka sebesar Rp 120 juta kepada pengembang.

Rino (30) warga Ciledug, Tangerang, memilih melunasi cepat-cepat KPR-nya daripada harus membayar bunga tinggi.

Namun, lebih banyak orang yang menunda impian membeli rumah karena merasa tak akan sanggup membayar cicilan.

Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan, kenaikan bunga KPR merupakan dilema bagi perbankan. Jika tidak dinaikkan, bank akan merugi karena suku bunga dana, seperti deposito, juga naik hingga mencapai 12 persen. Namun, jika dinaikkan, kredit bermasalah berpotensi meningkat.

Bunga deposito dalam dua bulan terakhir naik cukup pesat. Pemicunya adalah suku bunga acuan BI (BI Rate) yang tinggi mencapai 9,5 persen dan ketatnya likuiditas bank sehingga menciptakan perang bunga.

Wakil Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja mengatakan, bunga KPR bisa diturunkan jika BI Rate turun ke 7,5 persen.

Raup keuntungan

Pengamat properti, Panangian Simanungkalit, mengatakan, tingginya BI Rate jangan dijadikan alasan oleh perbankan untuk tidak menurunkan bunga KPR. ”Jangan-jangan perbankan meng>w 9736m<ambil kesempatan ini untuk meraup keuntungan,” ujarnya.

Ditegaskannya, saat ini bukan waktu terbaik menaikkan bunga KPR karena akan menyengsarakan nasabah. Dia juga menyayangkan perbankan yang tidak adil terhadap penetapan besaran KPR. ”Ketika SBI Rate 7,5 persen, nilai KPR rata-rata 9,5 persen. Namun, mengapa ketika SBI Rate 9,5 persen, nilai KPR rata-rata 15 persen. Ada apa dengan perbankan kita?” tutur Panangian.

Anggota Komisi V DPR, Enggartiasto Lukita, yang ahli masalah perumahan, juga meminta perbankan menurunkan suku bunga KPR.

Sumber : Kompas Cetak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s