Tips KPR

Posted on Updated on

Ini sekedar tips bagi member forum yang mau ambil KPR dibank.

Pemberian kredit, seperti KPR, ditentukan banyak hal, terutama:
1. Kemampuan Debitur
3. Kredibilitas
2. Agunan

1. Kemampuan debitur.
Ini sudah pasti, karena bank berharap kredit akan berjalan normal,
artinya gak pake acara macet di tengah jalan. Di sini bank akan melihat
kemampuan calon debitur, terutama besaran pendapatan dan besaran
pengeluaran. Salah satunya adalah melihat mutasi rekening untuk menilai
pola konsumsi. Hal terpenting dalam menghitung kemampuan, dikenal
dengan istilah Debt Buren Ratio, atau rasio hutang tehadap pendapatan.
Umumnya bank menetapkan sepertiga, meski bukan berarti tidak ada yang
melonggarkan. Dalam rumusan ini bank menetapkan, rasio SELURUH CICILAN
terhadap pendapatan take home pay tidak boleh melebihi sepertiga. Lihat link ini untuk lebih jelas mengenai perhitungan Debt Burden Ratio.
Cicilan dimaksud tak hanya di bank tempat ia mengajukan KPR, tapi juga
di bank-bank lain. Selain berdasarkan pengakuan calon debitur, bisa
juga melalui pengecekan BI checking. Dalam BI checking akan tercacat
jelas besaran kredit, cicilan, dan kualitas kredit, apakah lancar atau
bermasalah.

2. Kredibilitas
Ini tergantung track record calon debitur dalam berhubungan dengan
bank. Terlacak dari pengecekan internal bank, juga berdasarkan daftar
hitam yang dikeluarkan BI, Asosiasi Penerbit Kartu Kredit, atau dari
pengelola kartu kredit seperti Visa/Mastercard. Di sini, peran BI
checking juga cukup dominan.

3. Agunan
Bank bukanlah rumah gadai atau lembaga lelang, sehingga pada dasarnya
bank tidak menyukai untuk mengambil alih agunan. Selain biaya
pengambilalihan itu cukup besar, tahapan nya juga sangat menyita waktu
dan tenaga. Namun, Nilai Agunan menjadi hal sangat penting bagi bank
sebagai “second way out” jika debitur ternyata default atau gagal
bayar.
Nilai agunan biasanya ditentukan oleh pertugas bank atau independent
appraiser yang ditunjuk. Nilai agunan ditentukan dari kelengkapan
persyaratan administrasi (Sertifikat/IMB/PBB dll), kualitas bangunan,
lokasi yang strategis, cepat-lambatnya penjualan kembali, serta
infrastruktur yang mendukung. Mengenai adanya persyaratan lebar jalan
minimal menjadi bagian dari sini. Umumnya bank memang menetapkan lebar
jalan ukuran tertentu bagi rumah yang akan dibiayai, ini terkait dengan
nilai agunan jika bank terpaksa mengambilalih.

Uang Muka/DP
Banyak yang mempertanyakan
mengapa Bank seringkali meminta DP dalam jumlah besar (umumnya 20%
rumah baru dan 30% rumah sekunder/rumah second). DP membantu bank dalam
dua hal. Pertama, sebagai ikatan awal yang menciptakan “sense of
belonging” bagi debitur, dengan rasa memiliki ini diharapkan debitur
akan berusaha keras agar kreditnya tidak dengan mudah diabaikan dan
menjadi macet. Kedua, DP menjadi buffer bagi bank jika kredit macet.
Seperti kita ketahui, ketika kredit menjadi macet, bank tidak mudah
menjual kembali, karena menjual properti dibutuhkan waktu yang tidak
sebentar, belum lagi biaya yang timbul akibat akuisisi bank atas rumah
sebagai jaminan juga tidak sedikit. Dengan adanya DP diharapkan ketika
bank menjual kembali rumah itu,, hasil penjualan bisa menutupi sisa
hutang dan biaya-biaya yang timbul selama proses litigasi atau
pengambialihan.

Semoga membantu, mungkin bisa berkembang dalam diskusi selanjutnya.
Jika saya ada yang salah, mungkin member lain bisa mengoreksi

References:
1. Dua Cara Menghitung DBR
2. Sistem Bunga Flat, Effektif, Fixed, dan Floating

   

Thanks

 
#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s