BBM naik, pengembang konsolidasi ulang

Posted on

Oleh Irsad Sati, Bisnis Indonesia

JAKARTA Pengembang akan melakukan konsolidasi ulang untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM yang diperkirakan berlanjut pada kenaikan tingkat suku bunga kredit kepemilikan rumah (KPR).

Kenaikan harga BBM dipastikan akan memberikan membuat permin­taan di industri properti tertekan dalam tiga bulan ke depan.

Anton Sitorus, Manajer Riset Jones Lang LaSalle Indonesia, konsultan properti, mengatakan pengembang akan ramai-ramai melakukan konsolidasi ulang untuk menentukan arah dan sasaran bisnisnya karena akan terjadi perubahan yang sangat besar dalam pasar properti.

Pengembang, katanya, harus menemukan strategi yang tepat agar pasar yang sudah tertekan bisa tetap menyerap produk yang dikembangkan.

“Kalau arahnya menaikkan harga properti, jelas tidak tepat, karena daya beli tertekan. Harus dilakukan cara selain menaikkan harga agar pasar tidak tambah tertekan,” katanya kepada Bisnis kemarin.

Roberto Gani, General Manager Sales Marketing PT Intersatria Budi Karya Pratama, mengatakan pihaknya akan melakukan kombinasi pilihan, yaitu menekan ekspektasi margin dan menaikkan harga.

Dengan cara itu, lanjutnya, kemungkinan laju kenaikan harga produk bisa ditekan ke tingkat yang masih bisa diterima pasar.

“Kami akan melakukan evaluasi harga per bulan [setiap bulan], dengan proyeksi kenaikan sebesar 3% hingga 5%. Ini bisa dilakukan karena kami menekan margin proyek kami,” kata Roberto.

Intersatria merupakan pengembang dua menara apartemen The Lavande di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S. Thaib memperkirakan dampak kenaikan harga BBM saat ini tidak akan seberat dampak yang ditimbulkan kenaikan BBM pada 2005. Dia menilai pasar saat ini sudah jauh lebih siap.

“Dampaknya mungkin tidak akan lebih dari setahun. Namun, syaratnya bank sentral jangan menaikkan BI rate lebih dari 9% hingga akhir tahun ini, agar pasar terbantu dengan perkembangan yang ada,” katanya.

Dia juga memastikan pengembang akan melakukan konsolidasi untuk mengkaji kenaikan harga yang tidak terhindarkan serta upaya yang lebih tajam untuk melakukan efisiensi.

Semakin terpukul

Adapun, Roberto menyebutkan sektor properti sudah terpukul kenaikan harga besi yang signifikan, jauh sebelum kenaikan harga BBM.

Harga besi yang pada tahun lalu masih Rp5.700 per kg, kini sudah merangkak naik hingga mencapai Rpl0.000 per kg sejak pekan lalu.

“Ini jelas memukul biaya proyek. Kami saja untuk membangun apartemen The Lavande butuh besi hingga 4.000 ton. Jadi dapat dibayangkan berapa tambahan biayanya. Belum lagi kenaikan material lain seperti semen,” katanya.

Anton menambahkan persaingan pengembang akan sangat ditentukan tingkat efisiensi yang bisa mereka lakukan, sehingga bisa menghasilkan produk yang paling kompetitif di pasar.

Hal itu, lanjutnya, sangat penting dipahami pengembang karena memang produk tengah banjir di pasar sehingga persaingan akan ketat.

Menurut dia, kondisi pasar properti ke depan tidak hanya akan diwarnai konsolidasi pengembang tapi pembeli pun akan melakukan konsolidasi ulang terkait dengan transaksi yang tengah atau akan mereka lakukan.

Dengan begitu, menurut Anton, pengembang harus tahu betul bagaimana caranya agar pasar tidak makin menjauh dari produk yang mereka lempar ke pasar. (jrsacLsati@bisnis.a.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s