PROSPEK KPR SYARIAH DITINJAU DARI SISI GCG

Posted on

Sebagai salah satu kebutuhan utama manusia, sektor papan (perumahan) merupakan salah satu sektor bisnis menarik. Perkembangan manusia yang semakin bertambah menyebabkan semakin bertambahnya kebutuhan akan perumahan. Rumah merupakan kebutuhan primer bagi pemenuhan kesejahteraan manusia setelah sandang dan pangan. Namun demikian, ternyata kebutuhan akan perumahan ini seringkali terbentur pada minimnya dana yang dimiliki oleh konsumen yang mendambakan memiliki rumah sendiri. Alhasil, pengembangan melalui Kredit Perumahan Rakyat (KPR) pun dilirik sebagai alternatif utama pembiayaan perumahan. Salah satu solusi atas permasalahan tersendatnya pembangunan perumahan dapat dilakukan dengan pola kerja sama atau kemitraan. Pola kemitraan dapat dilaksanakan dalam beberapa bentuk, antara lain antara bank pemberi KPR (kredit pemilikan rumah) dengan perusahaan pelaku bisnis, bank pemberi KPR dengan perusahaan pengembang dan bank pemberi KPR dengan perusahaan pelaku bisnis dan perusahaan pengembang. Selain itu juga antara pengembang dengan institusi nonbank yang memiliki sumber dana yang kuat sebagai penyandang dana atau investor. Dengan pola kemitraan akan diperoleh banyak manfaat, antara lain tidak mengganggu modal kerja bagi perusahaan pelaku bisnis. Selain itu, kemitraan ini juga merupakan solusi kebutuhan investasi dan modal kerja bagi pengembang serta risiko kreditnya akan lebih terukur bagi pihak perbankan. Prinsip syariah Prinsip syariah dalam pembiayaan KPR hadir pada saat Indonesia terpuruk dalam krisis ekonomi lalu. Dengan menggunakan KPR syariah, bank membeli rumah dari penjual atau pengembang. Harga beli itu kemudian dikonversi menjadi cicilan langsung sesuai dengan batas waktu yang telah disepakati bersama. Hal itu memungkinkan cicilan tidak dipengaruhi gonjang-ganjing suku bunga. Perkembangan KPR Syariah yang berkembang pesat nampak dari jumlah bank syariah yang melirik prospek bisnis ini. Sedikitnya sembilan bank syariah telah dan akan ambil bagian untuk menyalurkan kredit KPR Syariah bersubsidi. Masing-masing Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah, Bank Syariah Mandiri (BSM), PermataBank Syariah, Niaga Syariah, BII Syariah, Bank Bukopin Syariah, Bank Muamalat Indonesia (BMI), BNI syariah dan BRI Syariah. Partisipasi bank-bank syariah tersebut dalam menyalurkan KPR Syariah Bersubsidi akan mempercepat pencapaian target pemerintah untuk membangun 100 ribu unit rumah sehat sederhana (RSH). Dari sisi perbankan syariah, pembiayaan KPR dapat diberikan dengan menerapkan dua macam prinsip yaitu Ijarah Muntahiya Bittamik (IMB) atau perjanjian sewa beli ataupun Ba”i Bithaman Ajil (BBA) atau perjanjian jual beli dengan angsuran. Dengan prinsip IMB nasabah KPR mengajukan sewa rumah kepada bank untuk menyewa rumah yang diinginkannya dalam jangka tertentu, misalnya 20 tahun, dan membayar sewanya setiap bulan. Dalam perjanjian tersebut juga disertai dengan akad tambahan bahwa pada akhir sewa nasabah dapat membeli rumah tersebut atau bank dapat menghibahkan rumah tersebut kepada nasabah. Pada prinsip yang kedua BBA atau jual-beli dengan angsuran, nasabah membeli rumah diinginkannya ke bank dengan harga pokok plus keuntungan bank. Kemudian nasabah akan membayar uang pembelian tersebut dengan angsuran setiap bulan dalam jangka waktu yang disepakati misalnya 10 atau 20 tahun. Prinsip GCG Perkembangan pesat ini perlu disikapi dengan hati-hati. Ekspansi besar-besaran perlu dibentengi dengan implementasi prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) agar pengembangan yang dilakukan membawa banyak manfaat. Standar GCG perlu dilakukan untuk memenuhi aspek akuntabilitas dan transparansi. Sebagai sistem alternatif, KPR Syariah perlu senantiasa memperhatikan pelaksanaan prinsip GCG dan menyiapkan berbagai langkah strategis dalam implementasinya. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh sistem KPR Syariah antara lain. Pertama, memastikan ketaatazasan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengembangan KPR Syariah perlu dilaksanakan dengan penyiapan kerangka aturan yang lengkap, sebab tanpa kerangkan aturan yang memadai, maka dasar hukum yang tercipta akan lemah. Kerangka aturan ini akan melindungi bank penerbit KPR Syariah dari sengketa yang melelahkan yang pada akhirnya akan merugikan semua pihak. Kedua, KPR Syariah perlu mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi. Salah satu risiko yang dapat terjadi adalah apabila pembangunan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan jadwal, sehingga harus dihitung ulang secara dari awal. Risiko ini perlu dipertimbangkan agar misi pembangunan tidak merugikan kepentingan stakeholders, baik pihak bank maupun konsumen. Ketiga, KPR Syariah mengimplementasikan GCG secara nyata melalui berbagai hal yang melindungi kepentingan stakeholders, terutama nasabah. Perlindungan terhadap stakeholders perlu dilakukan agar pengelolaan KPR Syariah berjalan secara maksimal, memberikan manfaat pasti dan memberi nilai tambah bagi stakeholders. Untuk itu, pelaksanaannya haruslah mengacu pada praktik terbaik yang dimiliki. Langkah terakhir adalah evaluasi menyeluruh terhadap praktik implementasi GCG. Evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengembangan yang telah dilakukan oleh KPR Syariah dan manfaat nyatanya bagi konsumen. Kelebihan yang telah berjalan harus dipertahankan secara maksimal dan semakin ditingkatkan. Sementara kekurangan/kelemahan yang timbul perlu diperbaiki dengan menggunakan cara-cara elegan yang baik dan sesuai dengan prinsip syariah. Pada akhirnya, diharapkan dengan mengimplementasikan GCG, kekuatan KPR Syariah semakin bertambah baik dan mampu memberikan solusi alternantif pembiayaan perumahan ditengah semakin membaiknya indikator kinerja ekonomi. Semoga saja. * penulis adalah Senior Associate pada SDP Consulting, Konsultan GCG di Jakarta
( Mohamad Fajari MP, 27-11-2006 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s